Monday, April 03, 2006

Kadet Martabe (All) Manyun

Disinilah letak kelebihan group debutan baru Kadet Martabe (All) Manyun. Penampilan perdana yang menampilkan komposisi apik; trio penyanyi dan tiga penari latar yang berbeda karakter.

" Tak ada pisang, kalengpun jadi," seru Tengku Hanif . Tatapan syahdu, entah apa yang dirasakan dikau, pakdhe...?? Aahhh. Bang Begar terlalu serius untuk dikomentari.

"Senyumku manis, karena berharap photo inilah yang akan dimuat, he...he.., ngono lho, cak," kilah Cak Ank ketika mengirinkan artikel ini. (bersambung)

Saturday, April 01, 2006

Journey begins with one step

A thousand miles journey begins with one step (Ruapehu, 2006)

How to be a Real Geologist




LESSON 1. ACT LIKE A REAL GEOLOGIST

don't eat quiche. They don't even know what it is. Real geologists like raw meat, beer and tonsil-killer chili.

don't need rock hammers. They break samples off with their bare hands.

don't sit in offices. Being indoors drives them crazy. If they'd wanted to sit in offices they'd have become geophysicists.

don't need geophysics. Geophysicists measure things nobody can see or feel, make up a whole lot of numbers about them, then drill in the wrong places.

don't go to meetings, except to point at a map and say "DRILL HERE" and leave.
don't work 9 to 5. If any real geologists are around at 9am it's because they're going to a meeting to tell the managers where to drill.

don't like managers. Managers are a necessary evil, for dealing with bozos from Human Resources, beancounters from Accounting and other mental defectives.

don't make exploration budgets. Nervous managers make exploration budgets. Only insecure mama's boys try to stay within exploration budgets. Real geologists ignore exploration budgets.

don't use compasses. That smacks of geophysics. Real geologists always know exactly where they are, and the direction of the nearest place where beer is available.

don't make maps. Maps are for novices, the forgetful, managers and pansies who like to play with coloured pencils. A real geologist will only draw a map to show the ill-informed managers where to drill.

don't write reports. Bureaucrats write reports, and look what they're like.

don't have joint venture partners. Partners are for wimpy bedwetters who are unable to think big.

don't use computers. Computers are for geophysicists, other nerds and limp-wristed quiche eaters who can't think for themselves.

by J. Garter from Geolog v. 19, pt 4, Sept/Oct 1990.


Profil: BangIr

"... Hey, Cooooy...," teriaknya disela-sela kesibukan kadet lainnya. Ketawanya yang khas sangat mudah dikenali dari kejauhan. BangIr, begitulah para bunga-bunga memanggilnya. Namun bagi para kadet, BangIr ini kerap dipanggil sebagai 'si coy'. Kegemarannya selalu di garda terdepan membuatnya fasih dalam taktik gerilya. Tapi ternyata tidak hanya itu saja. Badminton adalah olahraga kesukaannya.

BangIr ini sudah menamatkan pendidikan di kerajaan Martabe dan sekarang tengah mempersiapkan dokumen2 'to pursue a higher profesionalism' ke negeri Jiran Tagalog. (bersambung)

Sunday, March 26, 2006

Profil: Cak Ank


"... ngono lho, Cak," begitu setiap akhir pembicaraan kadet satu ini. Kadet Cak Ank mulai menempati sektor Lombok-2 bersama 2 kadet lainnya sejak awal tahun 2004. Penempatannya di sektor Lombok-2 ini semata-mata dalam rangka pengkaderan terhadap kadet-kadet muda. "Tiada kamar indah, bangsalpun jadi," kilahnya ketika menerima penempatan tersebut oleh Induk semang Pakadang Thamrin. Kegemarannya yang jarang kadet tinggalkan adalah memesan mie di sore hari. "Uenak, Cak," katanya. (bersambung)

Profil: Lik Izwa

Ini adalah the best foto bagi kadet Izwa sebelum semuanya berubah secara perlahan. "Time will more tell", katanya menanggapi hilangnya beberapa helai rambutnya saat ini.
Kadet Lik Izwa saat ini sedang mengemban tugas berat di negara jiran, Batu Hijau sana. Tugas yang ada dipundaknya adalah memadamkan pemberontakan para separatis. Tugas yang pasti tidak terbayangkan olehnya saat Kadet Iswa diminta menyanyikan salah satu lagu PeterPan saat farewell party.
"...waktu terasa semakin berlalu/tinggalkan cerita tentang kita/akan tiada lagi kini tawamu duka hapuskan semua sepi dihati/...". Ah malah sedih kalo inget lagu ini. (bersambung).

Profil: Pakdhe Bambangz

Salah satu kadet yang agak dituakan di Martabe. Bukan saja karena kepemimpinanannya atau keteladannya, tetapi memang beliau ini adalah salah satu kadet yang paling tua. Tapi jangan salah terka, sepak terjangnya tidak serta merta menunjukkan bahwa kadet ini sudah tua. Berjiwa muda dengan senyum (gingsulnya) yang khas selalu terhias di sela-sela wajahnya yang cerah. Mottonya yang "Titi Tentrem Kerta Raharjo, Tut Wuri Handayani" selalu kadet kumandangkan, walau tanpa harus paham artinya. Motto ini hanya menandakan bahwa si kadet berasal dari wilayah kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat.

Kepahaman akan bebatuanpun tidak diragukan. Menurut kadet hanya ada tiga jenis bebatuan, yaitu: lunak, agak keras dan keras. " Bebatuan yang keras sekali itu yang kita cari", demikian penjelasannya dihadapan mahasiswa ITM Medan beberapa waktu lalu di tahun 2004. (bersambung)

Profil: Tengku Hanifsyah

Sosok yang satu ini agak mudah dikenali dari jauh. Dengan badannya yang tinggi besar dan dengan senyumnya yang agak tertahan membuat para gadis Martabe berdegub jantungnya.

Menampung air mineral ditangan dan mengusapkannya di kepala adalah rutinitasnya disaat suasana panas. Panas karena hawa yang terik dan juga karena kepenatannya menghadapi para Kadet-kadet Martabe.
Kadet Kamsul pernah mengalami 'hardikannya'. Tapi jangan salah hardikan Kadet satu ini adalah kepura-puraan satu-satunya yang dia miliki. Beberapa kadet sudah hapal akan 'hardikan' ini. Jadi untuk menangkis hardikannya, seperti Kadet PakdheBeng, Kadet ini selalu mengelus pundak si-tengku dengan mneghiba minta tolong. Kalo soal begini ini, pasti kadet tengku langsung luluh.
(Bersambung)





(bersambung).

Saturday, March 25, 2006

Kadet-Kadet Martabe


Kadet-Kadet Martabe

Kadet-Kadet Martabe berasal dari berbagai kalangan dan usia. Ada yang berasal keluarga bangsawan, tenaga asing, warga setempat, warga pendatang, dan beberapa
yang belum jelas asal-usulnya. Namun hal ini tidak mengurangi rasa kebersamaan, kekeluargaan dan juga tentunya kenangan-kenangan selama di kerajaan Martabe.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, kerajaan Martabe sudah meluluskan beberapa kadet yang sekarang ini telah diterjunkan diberbagai medan pertempuran.
Beberapa kadet masih bersemedi di kerajaan, sampai pada akhirnya mendapat surat sakti untuk menggembara.














Thursday, March 23, 2006

Kolom Martabe

Edisi Pertama koran lokal ala online
Kolom MARTABE

Pada edisi pertama ini, kami belum menampilkan profil-profil para sorodadu, punggawa, dayang-dayang dan juga cantrik dari Martabe. Namun dalam edisi-edisi kedepan, akan kami isi berita-berita seputar kehidupan di Martabe. Kolom ini tidak memuat berita serius dan politik. Namun seandainya itu terjadi, kami sebelumnya mohon maaf.

Lik Izwa, Mas Bronto dan Pakdhe selaku kader kamar Sumbawa-2 dalam sebuah acara serah terima kunci kamar dan estafet kepemimpinan kamar Sumbawa-2.